Tata Usaha

Dialog Lintas Agama Sepakat Kejadian Kelam 10/10 yang Pertama dan Terakhir

Operator Web Site | Jumat, 15 November 2019 - 07:54:45 WIB | dibaca: 29 pembaca

Kab. Situbondo - Pelaksanaan dialog lintas agama dengan berbagai kalangan, masyarakat dan profesi yang digelar Kantor Kemeterian Agama (Kemenag) Situbondo, Rabu pagi kemarin (6/11) berjalan gayeng. Terjadi diskusi yang hidup antara nara sumber maupun peserta dalam acara yang ditempatkan di Aula Kemenag tersebut.

Diantaranya, salah satu peserta dari umat Kristen menyampaikan agar umat beragama di Kabupaten Situbondo tidak lengah dalam menyikapi keadaan Kota Santri yang saat ini sedang kondusif. Sebab, serangan yang mampu menghancurkan kerukunan antar umat beragama bisa terjadi kapan saja.

Peserta lainnya juga menyampaikan kegelisahannya tentang sikap pemerintah dalam menyelesaikan konflik antar umat beragama. Sebab, masih dirasa belum benar-benar hadir untuk memberikan rasa aman dan adil di tengah tengah masyarakat. “Jangan sampai kita terjebak dalam kerukunan yang semu,” terangnya.

Pandangan tersebut mendapat respon dari sejumlah anggota Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB). I Wayan Karba, pemuka agama Hindu menyampaikan bahwa hubungan antar umat beragama di Situbondo sudah sangat kondusif. Pensiunan polisi itu menegaskan, selama puluhan tahun ada di Situbondo dirinya benar-benar merasakan rasa aman dan nyaman.

Ketua FKUB Situbondo, KH Yusron Sofrowi mengaku terus menggalakkan silaturahmi dan dialog-dialog antar tokoh agama untuk menjaga dan meningkatkan kondusifitas antar umat beragama di Kabupaten Situbondo. Jika ada percikan-percikan, FKUB dengan cepat mengatasi agar tidak membesar dan merembet kemana-mana. “Kita sudah memiliki komitmen bersama bahwa kejadian kelam semacam 10 Oktober 1996 adalah yang pertama sekaligus yang terakhir,” tegasnya.

Kepala Kantor Kemenag Situbondo, yang diwakili Kasubag TU, Chaironi hidayat menerangkan, dialog lintas agama dengan berbagai kalangan, masyarakat dan profesi diharapkan mampu membuat pemeluk agama memiliki kepekaan dalam mengantisipasi gejolak-gejolak isu  SARA yang terjadi di Situbondo. “Kita ingin mempererat kerukunan. Jadi, kerukunan itu sudah ada. Tapi kita pererat lagi,” terangnya.

Dialog dimulai sekitar pukul 09.00 – 12.00. Dihadiri tokoh agama dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Ada juga utusan dari ormas, penyuluh agama Islam maupun tokoh masyarakat dan profesi.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)